Berikut beberapa tantangan yang
diproyeksikan akan mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia
ke depan thn 2017 menurut beberapa sumber:
1. Presiden Joko Widodo mencatat ada dua tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia saat ini yaitu keterbukaan dan kompetisi. Keterbukaan itu tidak bisa ditolak lagi oleh Indonesia. Dengan keterbukaan maka semua orang akan dapat mengetahui kondisi APBN, kondisi penerimaan negara dan sebagainya. Era keterbukaan akan lebih drastis lagi terjadi pada tahun 2018, saat itu semua bank intenasional akan lebih terbuka sehingga data nasabah bank bisa diakses. Hal lain yang menjadi perhatian pemerintah adalah efek dari era digital yang serba cepat. Perkembangan sosial media dan digital ekonomi juga tidak bisa dihambat lagi. Selain itu, kompetisi global juga tidak bisa dihindarkan dan harus dihadapi dengan penuh kehati-hatian.
2. Bank Indonesia (BI) menyebutkan beberapa faktor global yang dapat menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia, yaitu rencana kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserves, pelemahan ekonomi Tiongkok, penurunan harga komoditas dan potensi keluarnya aliran modal dari Indonesia ke negara lain. Selain itu, pengumuman Renminbi China sebagai mata uang internasional juga patut diwaspadai. Pasalnya langkah Renminbi menjadi salah satu mata uang dunia, artinya pengelolaan capital account China terbuka dan pengelolaan moneter independen. Oleh karena itu, jika Renminbi bisa dilemahkan lagi akan memberikan dampaknya cukup besar.
3. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan ada tiga tantangan ekonomi yang akan dihadapi Indonesia pada 2016. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menyampaikan tantangan pertama, yaitu pemulihan ekonomi di negara maju dan Tiongkok yang masih melambat, akan membayangi ketidakpastian bagi negara berkembang. Kedua, adanya pelemahan kinerja keuangan korporasi nasional pada semester II tahun ini akibat dampak dari perekonomian global dan domestik. Ketiga, perkembangan tingkat suku bunga acuan beberapa negara di dunia, terutama Amerika Serikat (AS).
4. Indef memberikan 10 persoalan yang perlu perhatian pemerintah guna memperbaiki ekonomi 2016 mendatang. Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengemukanan bahwa persoalan pertama yaitu risiko ketidakpastian ekonomi global. Dengan indikasi perlambatan ekonomi Tiongkok yang akan terus berlanjut, perlu adanya reorientasi pasar ekspor khususnya pada sektor yang berbasis komoditas. Selain itu, spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang dapat mengguncang nilai tukar. Begitu pula penurunan harga komoditas sehingga perlu dilakukan hilirisasi industri dan pengembangan pasar nontradisional negara tujuan ekspor. Kedua, stabilitas perekonomian yang semu dan lonjakan harga saham. Ketiga, rendahnya daya beli masyarakat. Keempat, menurunnya produktivitas nasional. Kelima, shortfall pajak dan mandulnya stimulus fiskal. Keenam, meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan. Ketujuh, ketergantungan pada ekspor komoditas. Kedelapan, efektivitas paket kebijakan fiskal dan moneter. Enny menuturkan, progress, laporan, dan follow up paket tersebut tidak jelas. Kesembilan, tantangan masyarakat ekonomi ASEAN. Kesepuluh, tantangan liberalisasi ekonomi.
Sumber : Laporan Perekonomian Indonesia 2016 - www.bps.go.id hal 39.
No comments:
Post a Comment